Menjembatani Kampus dan Sekolah: FGD Integrasi PLP-KKN UAD 2025
Ada satu momen yang begitu membekas dalam perjalanan kami membentuk arah baru pendidikan calon guru di Universitas Ahmad Dahlan. Saat itu saya berkesempatan hadir dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan oleh Laboratorium Pengembangan Profesi Kependidikan (PLP) UAD pada Rabu 9/07/2025 lalu. Bertempat di ruang dekanat FKIP, forum ini memang nampak santai namun bagi saya menjadi ruang dialog strategis untuk menyatukan dua program inti dalam pendidikan keguruan: interasi PLP (Pengenalan Lapangan Persekolahan) dan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Suasananya hangat dan mengalir membicarakan bagaimana integrasi keduanya bisa memperkuat kompetensi mahasiswa sebagai calon pendidik yang utuh—akademis sekaligus sosial.
Sebagai Dekan Fakultas Agama Islam, saya merasa FGD ini bukan hanya agenda koordinasi teknis. Ini adalah ruang untuk menyusun lompatan perubahan. Hadir berbagai pihak yang sangat relevan—mulai dari Wakil Dekan FKIP Prof. Suyatno, Ketua dan Tim PLP FKIP-FAI, hingga mitra dari Majelis Dikdasmen & PNF PWM DIY, yakni Bapak Achmad Muhammad, M.Ag., yang selama ini sangat aktif mendampingi sekolah-sekolah Muhammadiyah di wilayah Yogyakarta.
Saya pribadi memberikan perhatian yang cukup besar terhadap dunia keguruan. Sebab saya tahu betul rasanya menjadi guru—bukan dari teori semata, tetapi dari pengalaman langsung. Dari tahun 2013 hingga 2016, saya pernah menjadi guru ISMUBA di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Tiga tahun yang penuh dinamika, kedekatan dengan siswa, suasana ruang kelas, kegiatan sekolah, hingga pengabdian yang tidak terdefinisikan dengan angka. Guru bukan sekadar profesi bagi saya, melainkan panggilan jiwa.
Mungkin karena memang sudah mengalir dari darah keluarga. Saya lahir dan besar dari keluarga pendidik. Buya dan Umi saya, juga para kerabat dekat, banyak yang menekuni dunia pendidikan. Maka tidak heran jika saya merasa dunia ini begitu akrab—seperti rumah sendiri. Dan karena itulah, ketika berbicara tentang PLP, KKN, atau pendidikan calon guru, saya merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar tanggung jawab akademik. Ini soal warisan nilai dan pengabdian.
![]() |
| Suasana diskusi santai bersama saya dengan pimpinan FKIP UAD, Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PWM DIY dan tim laboratorium P2K UAD |
Dalam FGD tersebut, Prof. Suyatno menyampaikan bahwa mulai tahun 2025 ini, program PLP akan diintegrasikan dengan KKN. Langkah yang sangat strategis menurut saya. Selain efisien secara teknis, pendekatan ini memberi ruang pada mahasiswa untuk belajar secara lebih kontekstual dan bermakna—langsung di lapangan, di tengah masyarakat, dan tidak hanya mengajar, tetapi juga membangun relasi sosial dan kultural.
Saya menyampaikan bahwa mahasiswa FAI, khususnya dari Prodi PAI, akan sangat relevan jika dilibatkan dalam skema PLP-KKN ini. Karena selain mengasah kompetensi pedagogis, mereka juga punya bekal dakwah dan nilai keagamaan yang kuat—sehingga sangat pas jika turut membaur dan berkontribusi dalam masyarakat selama menjalani PLP-KKN.
Pak Fariz Setyawan dari Laboratorium PLP FKIP memaparkan bahwa tahun ini akan ada lebih dari 1.300 mahasiswa yang akan diterjunkan ke lebih dari 120 sekolah mitra. Sebuah angka besar, yang tentu membutuhkan mekanisme penempatan yang adil, terukur, dan berkelanjutan. Masukan dari Majelis Dikdasmen & PNF sangat penting, terlebih dalam memperhatikan keseimbangan antara sekolah besar dan kecil.
Saya sangat setuju dengan pandangan Bapak Achmad Muhammad bahwa tidak semua penempatan harus ke sekolah-sekolah favorit. Sekolah-sekolah kecil, yang tersebar di daerah pinggiran, justru bisa menjadi tempat belajar paling otentik—dan paling membutuhkan kehadiran mahasiswa. Pendekatan dakwah komunitas yang disebut beliau juga sangat relevan, terutama dalam konteks sekolah Muhammadiyah yang kerap berdampingan dengan masjid, ranting, dan komunitas keagamaan lokal.
Diskusi juga membahas arah penguatan kompetensi mahasiswa. Mulai dari pengajaran, pengelolaan kelas, hingga kemampuan sosial dan dakwah pencerahan. Saya menyambut positif upaya ini, karena itu berarti kita sedang menyiapkan guru-guru masa depan yang bukan hanya mampu mengajar, tetapi juga mampu hadir, membimbing, dan menginspirasi di tengah masyarakat.
FGD ini menjadi pengingat bagi saya bahwa dunia pendidikan terus bergerak. Dan sebagai bagian dari institusi pendidikan Muhammadiyah, kita harus terus berinovasi—bukan hanya dalam konsep dan kurikulum, tetapi juga dalam nilai dan semangat pengabdian.
Saya pulang dari forum ini dengan semangat yang kembali menyala. Bahwa menjadi guru, membina calon guru, dan membangun ruang belajar yang berdampak—adalah bagian dari perjalanan panjang yang tidak pernah selesai. Dan saya bersyukur, bisa terus menjadi bagian dari proses itu.
—
Arif Rahman
Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan

Komentar
Posting Komentar