FAI Forever: Pulang Sejenak, Bersama Lagi

Sabtu, 14 Februari 2026 kemarin, Aula Islamic Center UAD terasa berbeda. Bukan karena dekorasi yang mewah atau konsep acara yang spektakuler, tapi karena ada rasa yang sulit dijelaskan: rasa pulang.

Acara “FAI Forever: Pulang Sejenak, Bersama Lagi – Temu Kangen Alumni FAI Tahun 2026” akhirnya terlaksana. Sejak awal, kegiatan ini memang menjadi bagian dari upaya Fakultas Agama Islam Fakultas Agama Islam UAD untuk terus menjaga komunikasi dan kedekatan dengan para alumni dari berbagai angkatan. Kami ingin silaturahmi ini tidak terputus hanya karena jarak dan kesibukan.

Secara pribadi, saya benar-benar menanti acara ini. Sebagai dosen—dan kini diberi amanah sebagai dekan—ada rasa rindu yang tidak bisa ditutupi untuk kembali duduk, bercengkerama, dan mendengar cerita dari para mantan mahasiswa. Bahkan bukan hanya alumni yang pernah saya ajar sejak bergabung pada 2016, tetapi juga alumni-alumni FAI jauh sebelum itu. Dari data SIA yang sempat saya cek, sudah lebih dari 3.500 alumni yang lulus dari FAI. Angka yang besar. Artinya, keluarga ini memang luas sekali.

Acara ini sebenarnya sudah lama dinanti. Dosen, tenaga kependidikan, dan tentu saja para alumni, sudah beberapa kali berharap momen ini terwujud. Sempat tertunda karena berbagai kendala, tapi alhamdulillah akhirnya bisa terealisasi. Tentu ini bukan kerja satu dua orang. Ada tim yang luar biasa, sebut saja: mas Qaem, pak Rofiul, mas Yusuf, mas Dika, bu Wadek, staff TU dan kawan-kawan di FAI yang bekerja di balik layar dengan penuh kesungguhan.

Menariknya, meski acaranya terlihat sederhana, persiapannya cukup intens. Diskusi di grup panitia berlangsung cukup serius. Awalnya saya tidak banyak terlibat, karena tim sudah sangat terampil mendesain konsep acara. Tapi H-1 sebelum pelaksanaan, entah kenapa saya merasa perlu ada sedikit sentuhan ulang—terutama pada nama dan nuansa acara.

Saya mengusulkan agar acara ini tidak terlalu formal. Bukan sekadar “Temu Alumni FAI 2026”, tapi diberi ruh yang lebih hangat. Maka lahirlah nama: “FAI Forever: Pulang Sejenak, Bersama Lagi.” Dari nama saja, saya ingin ada kesan bahwa FAI ini rumah. Tempat kembali. Tempat yang selalu menunggu. Alumni tidak sedang datang ke acara resmi, tapi sedang pulang.

Dari sisi konsep, saya juga mengusulkan agar ada opening yang lebih segar, bahkan ditambah hiburan dan stand up comedy. Karena ini acara internal keluarga besar, kenapa tidak dibuat cair dan penuh tawa? Alhamdulillah, suasana benar-benar terasa lebih akrab sejak awal.

Yang hadir pun cukup ramai. Aula terasa hidup dengan wajah-wajah lama yang kini sudah punya cerita baru. Hadir juga Ketua Kamada UAD, mas Purnomo, serta ustadz Budi Jaya yang mengisi sesi talkshow. Tanpa kami rencanakan sebelumnya, ada fakta kecil yang membuat kami tersenyum: saya, bu Ferawati (wakil dekan), ustadz Budi Jaya (alumni ILHA), dan mas Purnomo—ternyata sama-sama berasal dari Palembang. Rasanya seperti reuni kecil di dalam reuni besar.

Selama acara berlangsung, banyak alumni berbagi kisah. Tentang perjuangan karier, pengabdian di masyarakat, kehidupan rumah tangga, hingga tantangan setelah lulus. Beberapa bahkan datang bersama pasangan dan buah hati mereka. Ada rasa haru melihat mahasiswa yang dulu duduk di bangku kelas kini datang sebagai ayah dan ibu.

Saya sesekali nimbrung, lebih sering mendengarkan. Di sela-sela itu, saya juga membuka ponsel. Ternyata cukup banyak pesan masuk—alumni yang izin tidak bisa hadir karena kesibukan di berbagai daerah. Tapi jujur saja, sekadar mereka berkabar lewat WhatsApp pun sudah membuat saya bahagia. Artinya, ikatan itu masih ada.

Momen seperti ini memang tidak bisa dilakukan setiap saat. Justru karena jarang, ia menjadi berharga. Setiap temu alumni selalu membawa rasa rindu, cerita-cerita lama yang dihidupkan kembali, dan tawa yang mungkin tak tergantikan oleh pertemuan virtual.

Di penghujung acara, kami berdiri bersama untuk foto bersama. Sederhana, tapi penuh makna. Saya melihat wajah-wajah itu dan dalam hati berkata: inilah yang membuat pekerjaan di dunia pendidikan terasa hidup—melihat mereka tumbuh, berproses, dan tetap ingin kembali.

FAI Forever. Pulang sejenak, bersama lagi. Dan insyaAllah, kita akan terus menjaga rumah ini tetap hangat bagi siapa pun yang pernah menjadi bagiannya.

foto bersama sebagian alumni FAI UAD

Alung mahasiswa prodi PBS melakukan open mic performance

Saya bersama dengan mas Purnomo, Ustad. Budi dan para alumni

Memberikan sambutan untuk menyapa hangat para alumni

Fahri alumni FAI angkatan 2015, generasi awal PAI UAD, sekarang sudah gondrong




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghadirkan Inovasi di Hadapan Para Guru PAI Hebat

Menebar Semangat Studi Doktoral Studi Islam UAD: Catatan Perjalanan Pribadi dari Semarang