Menghadirkan Inovasi di Hadapan Para Guru PAI Hebat
Saya tidak pernah benar-benar bisa memprediksi arah hari-hari saya sebagai dosen. Ada saja kejutan yang muncul di tengah aktivitas, dan kadang—justru dari situ, saya belajar banyak hal.
Beberapa waktu lalu, saya sedang duduk khusyuk menyimak prosesi pengukuhan guru besar Prof. Mochlasin, M.Ag di UIN Salatiga, suami dari kolega saya di FAI UAD, Prof. Rika Astari, M.A. Suasana akademik begitu khidmat, namun di tengah acara, ponsel saya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Pak Santo, salah satu pejabat di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Dengan suara ramah namun mengejutkan, karena beliau langsung menyampaikan permohonan agar saya bersedia menjadi narasumber dalam Diklat Inovasi Pembelajaran Guru PAI SD se-Kota Yogyakarta. Kegiatan itu, katanya, akan dilaksanakan besok pagi (23/07/2025).
Jujur, sempat terdiam. Mendadak sekali. Saya masih di Salatiga dan baru akan kembali ke Jogja malam hari. Tapi entah kenapa, hati ini langsung mengatakan: "Iya." Mungkin karena saya merasa ada beban moral di situ—kepercayaan pihak luar terhadap institusi UAD yang saya wakili, dan lebih dari itu, tanggung jawab keilmuan sebagai seorang dosen dan pendidik.
Menjelang maghrib, saya tiba kembali di Jogja. Selepas istirahat sejenak, saya mulai membuka laptop dan menyusun materi. Tapi jujur saja, kepala saya masih berkabut. Inovasi dalam pembelajaran PAI, mau saya mulai dari mana? Materi yang seperti apa yang akan relevan bagi guru-guru PAI SD yang tentu punya pengalaman lapangan jauh lebih lama dari saya?
Namun saya sadar, pembelajaran agama—apalagi di level dasar—bukan semata soal materi ajar, tetapi tentang menyentuh hati, membangun kesadaran spiritual, dan memfasilitasi tumbuhnya karakter anak-anak di usia emas mereka. Maka malam itu, saya menulis sambil merenung. Materi saya susun tidak hanya tentang alat, aplikasi, atau teknologi, tapi juga tentang prinsip-prinsip yang menurut saya esensial dalam mengajar: mentalitas, komunikasi, dan penguasaan kelas.
Pagi harinya, saya berangkat ke kantor Dinas Pendidikan Kota Jogja dengan motor bebek kesayangan. Jarak dari kontrakan ke lokasi hanya sekitar delapan menit. Sesampainya di sana, saya disambut hangat oleh Pak Santo. Kami sempat mengobrol ringan di ruang transit sebelum akhirnya beliau mengantar saya ke ruang acara.
Saya tertegun melihat ruangan yang sudah dipenuhi ratusan peserta. Kata Pak Santo, ada 168 guru PAI SD yang hadir. Luar biasa. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan bahwa diklat ini muncul karena adanya peluang anggaran yang bisa digunakan untuk penguatan kompetensi guru PAI—yang selama ini justru jarang mendapat pelatihan. Bahkan kegiatan ini pun sebenarnya cukup mendadak. Tapi semangatnya besar.
Ketika saya mulai sesi saya, rasa canggung menyelinap. Di depan saya ada guru-guru senior—bahkan dari survei kecil yang saya lakukan, beberapa di antara mereka sudah mengajar selama 30–40 tahun. Pengalaman mereka di lapangan pasti luar biasa. Maka, saya memilih untuk tidak "menggurui", tetapi mengajak mereka untuk sama-sama merenungkan perubahan dunia pendidikan hari ini.
![]() |
| Saya, pak Santo, beserta peserta guru-guru PAI SD se kota Yogyakarta |
Saya memulai dengan realitas bahwa dunia telah banyak berubah—dan seringkali di luar dugaan kita. Pandemi COVID-19, misalnya, menjadi momen global yang mengguncang sekaligus membuka ruang baru dalam cara kita berpikir dan mendidik. Saya perkenalkan konsep VUCA—volatility, uncertainty, complexity, ambiguity—untuk memberi kerangka berpikir bahwa pendidikan agama pun tidak boleh berada di luar arus perubahan ini.
Saya lalu berbagi soal bagaimana peran teknologi, khususnya AI, bisa menjadi bagian dari inovasi pembelajaran. Di forum ini, saya bahkan menunjukkan cara membuat lagu islami secara instan menggunakan AI. Kami mencoba bersama-sama membuat lagu dengan bantuan alat digital tersebut—dan berhasil! Saya juga mendemonstrasikan beberapa aplikasi lain yang bisa membuat pembelajaran PAI lebih interaktif dan menyenangkan.
Namun saya juga tekankan bahwa inovasi tidak selalu berarti digitalisasi. Inovasi pertama-tama lahir dari mindset yang kreatif dan adaptif. Teknologi hanyalah alat—tools. Sedangkan ruh dari pembelajaran ada pada tiga hal utama: mentalitas, komunikasi, dan penguasaan kelas.
Bagi saya, mentalitas mencakup sikap batin, motivasi, dan semangat belajar terus-menerus. Komunikasi menyangkut keterampilan interpersonal dan sosial, serta kepekaan terhadap peserta didik. Sementara penguasaan kelas berkaitan dengan kreativitas, berpikir kritis, dan kemampuan beradaptasi dalam mengelola dinamika ruang kelas.
![]() |
| para guru PAI menyaksikan tayangan video motivasi guru |
Ketiganya saya yakini relevan kapan saja, apapun kurikulumnya. Karena kurikulum bisa berubah sewaktu-waktu, namun nilai-nilai inti pengajaran akan selalu relevan. Justru ketika guru terlalu kaku mengikuti kurikulum, pembelajaran bisa kehilangan rohnya. Kurikulum penting, tetapi guru perlu luwes dalam menerapkannya.
Suasana diklat terasa hidup. Banyak guru yang aktif bertanya, berdiskusi, dan merespons dengan antusias. Yang membuat saya terharu, ternyata ada beberapa peserta yang merupakan alumni Fakultas Agama Islam UAD—beberapa di antaranya bahkan pernah menjadi mahasiswa saya sendiri. Melihat mereka sekarang menjadi guru-guru PAI yang berdedikasi di berbagai sekolah membuat saya merasa bangga sekaligus haru. Betapa waktu membuktikan bahwa pendidikan memang investasi jangka panjang.
![]() |
| Para alumni PAI UAD yang menjadi guru PAI di berbagai sekolah Yogyakarta |
Sebelum pulang, saya sempat berfoto bersama mereka. Rasanya seperti menutup lingkaran: dari ruang kelas sebagai dosen, lalu berjumpa lagi dengan mereka sebagai sesama pendidik di forum yang sama. Di situ saya merasa, inilah mungkin esensi dari menjadi guru—melihat yang kita tanam bertumbuh menjadi pribadi yang terus memberi manfaat.
Inovasi bukan sekadar hal baru. Kadang, inovasi adalah mengingatkan diri untuk terus tumbuh. Dan hari itu, saya pun belajar banyak dari para guru hebat yang hadir.



.jpeg)

.jpeg)

Komentar
Posting Komentar