Menebar Semangat Studi Doktoral Studi Islam UAD: Catatan Perjalanan Pribadi dari Semarang
Selasa, 15 Juli 2025 menjadi salah satu hari yang meninggalkan banyak cerita dan kesan mendalam bagi saya. Hari itu, saya bersama tim kecil dari Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan (FAI UAD) melakukan perjalanan ke Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) dalam rangka sosialisasi Program Doktor (S3) Studi Islam.
Kami berempat—saya sendiri, Prof. Dr. Siswanto Masruri (selaku Kaprodi S3 Studi Islam), Dr. Fandy Akhmad (Sekprodi), dan Dr. Zalik Nuryana (Kepala Bidang Kerja Sama Dalam Negeri)—berangkat dari Jogja sekitar pukul 07.00 pagi. Sopir kami, yang juga menjadi teman diskusi ringan selama di jalan, mengantarkan kami dengan nyaman hingga tiba di Semarang menjelang siang.
Sesampainya di kampus Unimus, kami langsung disambut hangat oleh tim protokoler kampus. Suasana penuh keramahan itu berlanjut dengan ajakan makan siang di sebuah tempat makan yang namanya cukup menggelitik: “Mak Mak.” Nama yang mungkin terinspirasi dari tren istilah “emak-emak” yang kini kerap dipakai dengan nuansa jenaka, tapi kuat kesannya. Di tempat makan itu, selain menyantap hidangan dengan beragam menu yang cenderung western food, kami juga sempat berbincang ringan dengan beberapa tamu asing dari Tokyo, Jepang, yang kebetulan sedang melakukan kunjungan akademik ke Unimus.
![]() |
| Foto bersama tamu dari Tokyo Jepang, WR kerjasama Unimus, dan rombongan S3 Studi Islam UAD |
Kami pun berfoto bersama dan—seperti biasa dalam setiap kesempatan bertemu rekan internasional—saya manfaatkan momen tersebut untuk bertukar kartu nama. Bagi saya, membangun jejaring itu bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari upaya memperluas cakrawala, menjalin komunikasi, dan menumbuhkan peluang kolaborasi, baik lokal maupun global.
Usai makan siang, kami diajak kampus tour mengelilingi area Unimus. Saya sangat mengapresiasi bagaimana kampus ini berkembang begitu pesat. Bangunan-bangunannya tampak modern dan rapi, tetapi yang paling mengesankan adalah suasana hijau yang tetap terjaga. Di tengah kampus, terdapat lapangan tenis yang rutin digunakan sivitas akademika untuk berolahraga. Saya mendengar langsung bahwa Rektor Unimus sendiri sering bermain di sana, menunjukkan bagaimana kampus ini tumbuh dalam harmoni antara intelektualitas dan gaya hidup sehat.
Sesi sosialisasi dimulai setelah campus tour selesai. Kami diarahkan ke ruang meeting yang sudah dipenuhi peserta dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) se-Jawa Tengah. Rektor Unimus, Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., membuka acara dengan sambutan hangat. Beliau menekankan pentingnya peningkatan kualifikasi dosen melalui studi lanjut, dan menyampaikan bagaimana Unimus saat ini tengah memetakan dosen-dosen yang belum menempuh studi doktoral sebagai bagian dari strategi penguatan kapasitas akademik.
![]() |
| Suasana selepas sosialisasi program doktor S3 Studi Islam UAD yang dihadiri Rektor Unimus dan peserta dari berbagai PTMA sekitar |
Saya menyampaikan langsung materi sosialisasi, menjelaskan bahwa Program S3 Studi Islam FAI UAD dirancang untuk menyelaraskan antara kedalaman keilmuan dan efektivitas waktu studi—maksimal tiga tahun—berkat dukungan sistem pembimbingan intensif dan terstruktur. Prof. Siswanto kemudian memberikan penjelasan yang lebih komprehensif tentang visi, kurikulum, fokus kajian, serta strategi menyelesaikan studi doktoral secara sukses.
Diskusi berjalan hangat. Banyak pertanyaan dari peserta terkait sistem hybrid, pembimbingan disertasi, dan strategi publikasi ilmiah. Saya merasa sangat senang karena peserta tidak hanya hadir, tapi benar-benar terlibat. Salah satu dosen dari UMKABA bahkan menyatakan kekagumannya terhadap pendekatan holistik program kami.
![]() |
| Penyerahan simbolis cenderamata dan bahan informasi PMB dari S3 Studi Islam ke peserta sosialisasi |
Sebelum kami kembali ke Jogja menjelang sore harinya, masih di wilayah kota Semarang, kami sempat mampir sebentar ke pusat oleh-oleh khas, yaitu Bandeng Juwana Elrina. Tempat ini terkenal dengan aneka olahan ikan bandeng dan produk makanan laut lainnya. Kami memilih beberapa produk untuk dibawa pulang sebagai buah tangan—setidaknya, sebagai tanda bahwa kami sempat singgah dan mencicipi rasa khas dari kota ini.
Perjalanan ini bukan hanya tentang promosi akademik, tapi juga tentang silaturahmi, membangun koneksi, dan menyerap semangat kolaboratif antar kampus. Saya pulang dengan hati yang penuh syukur dan kepala yang dipenuhi ide. Bahwa dunia akademik, dengan segala perjalanannya, adalah ruang luas untuk saling menguatkan dalam visi bersama: pendidikan Islam yang unggul dan berkemajuan.
—
Arif Rahman
Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan


.jpeg)
Komentar
Posting Komentar